Dengan kecepatan tinggi, Lynx berusaha menuju sungai. Berbagai macam pikiran melintas di benaknya. Dia perlu menemukan cara mengatasi kesulitan ini, karena jumlah tawanan semakin banyak, sementara itu dia sendirian. Dan dia yakin, musuhnya akan menggunakan strategi yang sama, menggunakan tahanan sebagai cara untuk memaksanya menyerah seperti sebelumnya. Lynx tidak ingin hal tersebut terulang lagi.

Di pertengahan jalan, Lynx mendengar jejak langkah beberapa orang. Tiba-tiba dari balik dedaunan lebat, tiga sosok muncul. Lynx langsung memasang kuda-kuda, bersiap jika mereka adalah ancaman. Namun, ia segera mengenali wajah Darek, pemuda yang sebelumnya ia temui bersama teman-temannya.

“Lynx!” seru Darek, ekspresinya campuran antara lega dan khawatir. “Syukurlah kamu bisa melarikan diri, kami sudah sangat khawatir!”

"Kami senang melihatmu baik-baik saja," kata pemuda satunya.

"Kami melihatmu menggendong seseorang. Dimana orang itu ?"Tanya pemuda satunya.

"Kukira musuh. Hampir aku menyerang kalian." Kata Lynx lega. Dia segera mengendurkan kewaspadaannya dan bersikap santai.

"Mereka sangat pintar. Aku sudah meremehkan mereka. Ternyata mereka sudah menduga aku akan datang dan sudah menyiapkan jebakan serta menggunakan tawanan sebagai sandra agar aku menyerah." Kata Lynx dengan raut wajah kesal. "Tapi aku berhasil melarikan diri.”

Darek dan dua rekannya, Ekar dan Rafin, saling berpandangan dengan raut wajah serius. “Kami melihat kau ditangkap. Kami tidak punya cukup orang untuk menyerang langsung, jadi kami mencari cara lain. Tapi situasinya semakin rumit.”

“Rumit bagaimana?” tanya Lynx dengan nada rendah namun tajam.

Ekar, pria bertubuh kekar yang memegang tombak buatan tangan, maju ke depan. “Kami melihat sesuatu yang aneh. Ada satu orang asing datang lewat sungai, menggunakan perahu kecil. Dari pakaian dan cara mereka berbicara, kami yakin mereka dari suku Yaksa.”

Lynx menatap Darek dengan tajam, mencoba mencerna informasi yang baru saja disampaikan. “Suku Yaksa? Apakah mereka datang untuk Jelita? Kau yakin mereka datang ke sini?”

"Jelita?" Tanya Darek keheranan.

Lynx lalu menjelaskan, "Jelita, orang yang tadi kalian tanyakan. Dia wanita yang berhasil aku selamatkan dari tahanan karena berada ditempat yang sama denganku dikurung."

Lynx melanjutkan," Jelita anak salah satu tetua suku Yaksa yang ditangkap dan disiksa oleh kawanan perampok. Apa kalian ingat ada seorang wanita muda yang diikat di tengah halaman?"

Darek menganggukkan kepala dan berkata dengan geram. "Iya aku ingat, wanita itu di ikat dan di jemur, di perlakukan selayaknya hewan."

"Dari tubuhnya, aku yakin dia wanita tua, bukan wanita muda." Kata Rafin sambil berusaha mengingat. Dia sangat yakin wanita yang dilihatnya saat itu adalah wanita yang sudah tua.

"Wanita itu adalah Jelita. Perampok itu menyiksanya berhari-hari tanpa makan dan minum serta memukulinya," kata Lynx menjelaskan.

Rafin, Darek dan Ekar kaget mendengar bahwa wanita yang diikat itu adalah Jelita. Mereka tidak bisa membayangkan penderitaan yang telah dialami wanita itu selama ini.

Ekar mengepalkan kedua tangannya. "Sungguh kejam. Bagaimana bisa mereka memperlakukan wanita seperti itu."

"Bagaimana dengan Jelita saat ini, apakah dia baik-baik saja?" Tanya Darek khawatir. Dia membayangkan kemungkinan hal tersebut bisa terjadi kepada adiknya, Alana. Seandainya tidak terjadi kejadian yang merenggut nyawanya. Para perampok itu pasti tidak akan membiarkan adiknya begitu saja.

"Jangan khawatir, Jelita saat ini baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan perlu waktu untuk pulih. Aku sudah sempat mengobatinya saat didalam penjara." Jawab Lynx.

"Kenapa dia ditangkap dan disiksa seperti itu?" Ekar bertanya dengan penuh rasa penasaran.

"Panjang ceritanya. Kita akan bahas mengenai hal ini lain kali. Bagaimana selanjutnya? Apa yang terjadi pada orang tersebut?" Tanya Lynx mengembalikan ke topik pembicaraan.

Darek mengangguk cepat. “Kamu benar. Kita harus fokus dengan masalah yang sedang terjadi saat ini. Kami melihat orang yang datang itu sendirian. Awalnya, kami pikir dia sedang mengintai keadaan disini karena datang sendirian. Tapi ternyata dia diterima dengan baik oleh para perampok.”

“Mereka berbicara sebentar di tepi sungai, lalu orang tersebut diajak masuk ke bangunan terbesar,” tambah Ekar. “Tidak lama, dia pergi begitu saja tanpa ada pertarungan atau masalah apa pun.”

“Itu aneh,” gumam Lynx sambil menyipitkan mata. “Aku pernah dengar, suku Yaksa dikenal sebagai suku yang menjaga jarak dengan perampok. Jika dia diterima begitu saja, pasti ada sesuatu yang terjadi.”

“Tunggu,” potong Rafin, pemuda berambut keriting yang sejak tadi diam. “Itu belum semuanya. Tak lama setelah orang Yaksa itu pergi, perampok-perampok mulai sibuk. Mereka semua mengambil senjata, lalu mereka memperkuat penjagaan di sepanjang sungai, memasang jaring besar di air, dan mempersiapkan senjata di sepanjang tepi sungai.”

Ekar mengangguk, wajahnya serius. “Kami penasaran apa yang sedang mereka lakukan, jadi kami tetap mengawasi dari jauh. Dan beberapa jam kemudian, perahu-perahu Yaksa datang.”

“Jadi itu pada saat peperangan yang terjadi tadi?” kata Lynx memastikan.

Darek mengangguk. “Ya. Mereka mencoba menyerang lewat sungai, tapi mereka kalah jumlah. Para perampok sudah menyiapkan jebakan dan menyergap mereka. Itu bukan pertarungan, Lynx. Itu pembantaian.”

Lynx mengepalkan tangan, rahangnya mengeras mendengar penjelasan itu. “Apakah banyak korban dari pihak Yaksa?”

“Kami tidak tahu pasti,” jawab Ekar, ragu. “Tapi kami melihat banyak orang Yaksa ditangkap. Mereka digiring ke perkampungan perampok.”

Rafin melangkah lebih dekat, wajahnya penuh rasa khawatir. “Lalu kami melihat seseorang berlari membawa seorang di punggungnya. Kami tahu itu kau, Lynx. Jadi kami memutuskan untuk menyusulmu.”

Lynx menatap mereka satu per satu, menganalisis situasi dengan cepat. “Kalau begitu, kalian juga pasti menyadari ada yang tidak beres.”

“Kami yakin ada pengkhianat di suku Yaksa,” kata Darek dengan tegas.

Ekar menambahkan, “Hanya itu yang masuk akal. Bagaimana lagi mereka bisa tahu kapan dan di mana Yaksa akan menyerang?”

Lynx mengangguk pelan, tatapannya penuh tekad. “Jelita juga memberitahu ada pengkhianat di antara mereka sehingga dia ditangkap. Itu sebabnya mereka tahu terlalu banyak. Ini bukan kebetulan.”

Rafin menatap Lynx dengan penuh harapan. “Apa yang akan kita lakukan sekarang, Lynx? Mereka punya tahanan, termasuk orang-orang Yaksa. Dan jumlah perampok itu... terlalu banyak untuk kita hadapi langsung.”

Lynx menghela napas, memutar otak untuk menemukan rencana. “Pertama, kita pastikan Jelita tetap aman. Dia menunggu di tempat yang tidak jauh dari sini. Kedua, kita pelajari situasi di perkampungan perampok dengan lebih rinci. Jika ada pengkhianat, aku ingin tahu siapa dia, dan apa tujuannya.”

“Kami akan membantumu,” kata Darek tanpa ragu. “Katakan apa yang harus kami lakukan.”

“Bagus,” balas Lynx sambil berdiri tegap. “Tapi ingat, kita harus sangat berhati-hati. Mereka sudah terlalu pintar, dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.”

Rafin menganggukkan kepalanya,"Kamu sudah dua kali berhasil lolos dari mereka. Kamu harus lebih berhati-hati kali ini. Aku yakin, para perampok itu tidak akan membiarkanmu begitu saja jika tertangkap kembali."

"Benar Lynx, terutama jika mereka menggunakan tahanan lagi agar dapat memaksamu untuk menyerah." Kata Darek mengingatkan.

"Senjatamu? Di mana senjatamu? Aku tidak melihatnya bersamamu?" Tiba-tiba Ekar menyadari senjata yang biasa dibawa Lynx di pinggangnya sudah tidak ada.

"Mereka mengambilnya." Jawab Lynx singkat.

"Bagaimana ini, tanpa senjata itu, bagaimana kamu akan menolong mereka?" Rafin bertanya

"Jangan khawatir, senjata itu hanya aku yang bisa menggunakannya dengan baik. Tanpa senjata itu, aku masih bisa menggunakan senjata yang lainnya untuk bertarung." Jawab Lynx untuk menghilangkan kekhawatiran mereka. Parang yang selama ini menemaninya bertarung, sebenarnya menjadi jauh lebih kuat, karena tanpa di sengaja dia mengalirkan energinya ke senjata tersebut.

Ekar melangkah ke depan, memegang tombaknya erat. “Kapan kita mulai?”

“Segera,” jawab Lynx, tatapannya tegas. “Tapi pertama, kita pastikan Jelita aman. Setelah itu, kita berhadapan langsung dengan para perampok.”

Mereka bertiga mengangguk serempak, mengikuti Lynx kembali ke tempat Jelita bersembunyi. Sementara itu, di pikiran Lynx, rencana besar mulai terbentuk—rencana untuk menyelamatkan para tahanan, menghadapi para perampok, dan membongkar pengkhianatan di suku Yaksa.

